Latest News

Aku Ingin jadi dokter

Rabu, 07 Juli 2010 , Posted by Lentera at 08.04

Waktu itu sekitar pukul 01.30 malam, penyakit ginjal yang diderita ibu kembali kambuh. Di pangkuan Ayah ibu meringis kesakitan, aku hanya bisa menangis saat itu, sejuta perasaan takut menggelayut di pikiranku, takut kalau ibu akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Sesaat kemudian ibu tidak sadarkan diri, melihat keadaan ibu yag seperti itu tanpa berpikir lagi aku berlari, pintu kulabrak, aku bahkan lupa memakai alas kaki karena yang ada dipikiranku Cuma satu, rumah pak mantri.
Jarak seratus meter yang harus kutempuh terasa sangat jauh karena ketegangan yang kurasakan , sampai di pintu kugedor- gedor rumah beliau,
“Ada apa dek?” dengan ekspresi kaget dia bertanya
Aku tak sanggup lagi berkata apapun. Nafas yang memburu, sesenggukan tangis serta pikiran kalut semuanya bercampur jadi satu, aku Cuma bisa menunjuk ke arah rumah.

Setelah memeriksa ibu lalu memberikan obat pak mantri mengatakan bahwa Insya Alah ibu akan baik-baik saja. Mendengar hal tersebut kami menjadi lebih tenang, dan sikap pak mantra sangat tenang menghadapi pasiennya, seperti seorang actor piawai yang memainkan opera. sejak kejadian itu Aku menyimpan sebuah mimpi, sebuah keinginan kuat untuk menjadi seorang dokter.

***

Hari ini aku pertama kali menginjakkan kaki di SMA, sebuah fragmen penuh warna, yang kata banyak orang masa indah tak terlupakan, apalagi karena aku berhasil bergabung di sekolah favorit tingkat kabupaten
“Mulai sekarang aku akan giat belajar, agak aku bisa bersaing, agar aku menjadi orang yang berilmu dan paling penting adalah mencapai cita-cita yang aku impikan”
Sebuah kesyukuran besar buatku bisa menjadi bagian dari sekolah ini, tahun pertama kujalani dengan bahagia karena memiliki teman yang percaya dan mendukungku dalam banyak hal, di tahun ini pula aku mulai mengenal dunia tarbiyah, mulai mengerti bagaimana seharusnya seorang hamba Allah menjalani kehidupan diatas muka bumi, berkumpul dengan saudari-saudari seiman saling mengingatkan agar selalu berada dalam koridor yang benar.

Hampir tiga tahun aku bersekolah di SMU, sebentar lagi kami akan menghadapi ujian akhir sekolah dan meneruskan ke perguruan tinggi. Hampir tiap hari teman-temanku begitu semangat membicarakan tentang rencana tempat kuliah mereka, membicarakan pilihan masa depan, aku hanya bisa tersenyum tatkala mereka bertanya tentang rencana studi ku. Pikiran itu terus menerus hinggap di pikiranku, membuatku kadang menangis dalam kesendirianku, aku kini jadi lebih pendiam.
Suatu hari sepulang sekolah aku memberanikan diri untuk menceritakan tentang keinginanku kuliah di UNHAS Makassar di hadapan ibu ayahku, mereka dengan seksama mendengarkan penjelasanku, lalu mereka tersenyum getir, senyum dan pandangan yang sama yang aku berikan ketika temanku bertanya tentang rencana kuliahku, mataku berembun, perasaanku terpukul ibu lalu mendekap lalu membelai lembut kepalaku sambil berkata
“Biaya di kota mahal nak apalagi untuk kuliah di UNHAS”
Aku semakin larut dalam kesedihanku. Mungkin aku harus mengubur impianku dalam-dalam, aku mafhum dengan kondisi orangtuaku, aku tahu mereka pasti menginginkanku bersekolah setinggi-tingginya namun ekonomi kami tak membiarkan hal itu.

Senin. Ya hari senin seingatku. sesaat setelah upacara bendera sekolah kami kedatangan tamu, mereka adalah alumni dari sekolah ini yang telah kuliah, dari warna merah almamaternya aku tahu bahwa mereka dari Unhas, aku semakin cemburu melihat kakak kelasku yang yang berhasil menembus ketatnya persaingan masuk universitas terbesar di Indonesia timur itu. Mereka terlihat begitu berwibawa dengan pakaian kebesarannya apalagi guru-guru kami dengan bangganya memperkenalkan mereka. Setelah memperkenalkan nama mereka, kakak kelas kami lalu menawarkan sebuah program Beastudi ETOS, beasiswa yang ditujukan bagi siswa yang ingin lanjut kuliah namun terkendala biaya. Aku tersentak lalu dengan serius mendengarkan penjelasan sang kakak kelas, serasa ada arus energi kuat dari alam bawah sadarku. Dengan perasaan berbunga-bunga aku berlari kerumah sambil membawa brosur beastudy ETOS yang dibagikan di sekolah, dengan semangat aku memperlihatkannya kepada Ayah dan IBu, Aku melihat senyum sumringah dan sorot mata cerah dari kedua orang tuaku, raut muka bahagia.
“Insya Allah aku akan berjuang mendapatkan Beastudi Ini bu, ini adalah kunci masa depanku,!!!” tegasku optimis
Ibuku tak kuasa menahan haru melihat semangatku yang menggebu-gebu, lalu mendekapku. Penjelasan hari itu telah menghidupkan kembali mimpi-mimpiku, menyemai harapan ditaman-taman hatiku yang dulunya terpaksa kutebas habis. Hari itu saya tak ingin lagi bermimpi, namun aku berjanji bahwa suatu hari aku akan diwisuda di Unhas dengan gelar… Dokter…!

Seri interview beastudi ETOS

Tamalanrea050710
Selesai dengan iringan instrumentalia “Yesterday” dari The Beattles

Currently have 0 komentar:

Leave a Reply

Posting Komentar